https://s.kaskus.id/e3.1/img/default-forum-image-doodle-600x315.png
1024
1024
KASKUS
https://s.kaskus.id/e3.1/images/layout/home-logo-n.png
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5c869deb88b3cb7a8c0803a0/kerja-asik-ala-millenials
Tidak asing lagi di telinga kita mendengar kata "millenal". Millenial atau generasi Y adalah sebutan untuk mereka yang lahir pada rentang tahun 1980-an hingga 1997. Generasi ini tumbuh pada era internet booming dengan karakteristik berbeda antar individu, pola komunikasinya lebih terbuka dibandingkan dengan generasi sebelumnya, serta fanatik media sosial yang dalam kehidupannya terpengaruh oleh cepatnya perkembangan teknologi (Lynos, 2004).
Sehingga, menjadi hal yang lumrah jika dalam kesehariannya tidak bisa jauh dari gadget yang dimilikinya dan teknologi dijadikannya salah satu solusi untuk mempercepat menyelesaikan berbagai hal yang mereka hadapi.
Lalu, bagaimana sih sebenarnya pola pikir generasi ini? Apa yang menggugah minat mereka? Dan bagaimana seharusnya memperlakukan mereka agar tetap bertahan dalam suatu organisasi ?
Untuk bisa memperlakukan millenial dengan baik, kita harus paham betul dengankebiasaan mereka yang sangat cinta dengan media sosial. Salah satu caranya dengan membuat sebuah lingkungan kerja yang meniru aspek sosial yang bebas. Mereka menginginkan lingkungan kerja layaknya rumah mereka sendiri, dimana mereka bisa bekerja, bermain, dan beristirahat sesuka hati mereka.
Para millenial juga enggan berurusan dengan peraturan kantor, menurutnya super 'ngerepotin', contohnya sajajam kedatangan dan jam pulang. Prioritas mereka tetap menyelesaikan tugas dengan baik dan tepat waktu, namun pengerjaannya dalam suasana yang santai dan lebih tenang. Memang sih terdengar radikal, tapi sistem pekerjaan seperti inilah yang mampu membuat millenial tetap bertahan.
Kantor berkonsep open office serta lingkungan kerja kolaboratif bisa menjadi solusinya. Akses internet yang cepat, lingkungan atau lokasi kantor yang strategis, serta fasilitas lainnya yang dapat meningkatkan kinerja serta mengurangi tingkat stres dunia pekerjaan juga menjadi pertimbangan untuk mempertahankan generasi millennial.
Apple, Google, dan Facebook bisa dibilang ahlinya perusahaan yang menyediakan lingkungan kerja dengan memfasilitasi dan memanfaatkanenergi dan semangat para millenial.
Sejatinya millenial memerlukan dan selalu menjunjung tinggi rasa kebebasan. Kebebasan yang dimaksud bukanlah kebebasan yang tidak beraturan melainkan kebebasan untuk berekspresi. Disaat mereka mendapatkan rasa kebebasan tersebut, timbulah daya cipta dan imajinasi yang dapat menghasilkan ide-ide kreatif. Ide kreatif ini akan menjadi "senjata ampuh" millenial untuk bersaing di dunia pekerjaan.
Selain itu, mendengar, menyimak, sekaligus bertukar pikiran dengan orang lain, membuat millenial mendapat pandangan berbeda dan menjadikannya sumber lain munculnya ide-ide kreatiftanpa harus mengorbankan integritas dan pendirian miliknya.
Suasana baru ditambah dengan mobilitas anak muda yang tinggi diyakini mampu membuat waktu yang ada menjadi lebih efisien. Tidak dapat dipungkiri, kebanyakan millenial memerlukan waktu 2 jam untuk pergi ke kantor dan pulang ke rumah. Bayangkan saja jika setiap harinya mereka harus melalui jalanan macet, bisa jadi kejadian ini dapat memicu stres dan kemungkinan akan berdampak terhadap kinerjanya. Maka, dengan waktu yang lebih fleksibel, millenial dapat mengatur waktu kerjanya dengan lebih maksimal.
Mencari titik persamaan di dalam perbedaan adalah bentuk kolaborasi yang tepat karena hal ini sangat krusial di era globalisasi. Di sisi lain, pemikiran yang terbuka merupakan salah satu bentuk keluaran dalam menyempurnakan ide tersebut. Melalui pemberian ruang lingkup kerja yang tidak dibatasi dan jam kerja yang fleksibel sesuai ala millenials ini diyakini mampu menunjang kinerja yang nantinya akan berdampak baik bagi perusahaan.
Tidak asing lagi di telinga kita mendengar kata "millenal". Millenial atau generasi Y adalah sebutan untuk mereka yang lahir pada rentang tahun 1980-an hingga 1997. Generasi ini tumbuh pada era internet booming dengan karakteristik berbeda antar individu, pola komunikasinya lebih terbuka dibandingkan dengan generasi sebelumnya, serta fanatik media sosial yang dalam kehidupannya terpengaruh oleh cepatnya perkembangan teknologi (Lynos, 2004).
Sehingga, menjadi hal yang lumrah jika dalam kesehariannya tidak bisa jauh dari gadget yang dimilikinya dan teknologi dijadikannya salah satu solusi untuk mempercepat menyelesaikan berbagai hal yang mereka hadapi.
Lalu, bagaimana sih sebenarnya pola pikir generasi ini? Apa yang menggugah minat mereka? Dan bagaimana seharusnya memperlakukan mereka agar tetap bertahan dalam suatu organisasi ?
Untuk bisa memperlakukan millenial dengan baik, kita harus paham betul dengankebiasaan mereka yang sangat cinta dengan media sosial. Salah satu caranya dengan membuat sebuah lingkungan kerja yang meniru aspek sosial yang bebas. Mereka menginginkan lingkungan kerja layaknya rumah mereka sendiri, dimana mereka bisa bekerja, bermain, dan beristirahat sesuka hati mereka.
Para millenial juga enggan berurusan dengan peraturan kantor, menurutnya super 'ngerepotin', contohnya sajajam kedatangan dan jam pulang. Prioritas mereka tetap menyelesaikan tugas dengan baik dan tepat waktu, namun pengerjaannya dalam suasana yang santai dan lebih tenang. Memang sih terdengar radikal, tapi sistem pekerjaan seperti inilah yang mampu membuat millenial tetap bertahan.
Kantor berkonsep open office serta lingkungan kerja kolaboratif bisa menjadi solusinya. Akses internet yang cepat, lingkungan atau lokasi kantor yang strategis, serta fasilitas lainnya yang dapat meningkatkan kinerja serta mengurangi tingkat stres dunia pekerjaan juga menjadi pertimbangan untuk mempertahankan generasi millennial.
Apple, Google, dan Facebook bisa dibilang ahlinya perusahaan yang menyediakan lingkungan kerja dengan memfasilitasi dan memanfaatkanenergi dan semangat para millenial.
Sejatinya millenial memerlukan dan selalu menjunjung tinggi rasa kebebasan. Kebebasan yang dimaksud bukanlah kebebasan yang tidak beraturan melainkan kebebasan untuk berekspresi. Disaat mereka mendapatkan rasa kebebasan tersebut, timbulah daya cipta dan imajinasi yang dapat menghasilkan ide-ide kreatif. Ide kreatif ini akan menjadi "senjata ampuh" millenial untuk bersaing di dunia pekerjaan.
Selain itu, mendengar, menyimak, sekaligus bertukar pikiran dengan orang lain, membuat millenial mendapat pandangan berbeda dan menjadikannya sumber lain munculnya ide-ide kreatiftanpa harus mengorbankan integritas dan pendirian miliknya.
Suasana baru ditambah dengan mobilitas anak muda yang tinggi diyakini mampu membuat waktu yang ada menjadi lebih efisien. Tidak dapat dipungkiri, kebanyakan millenial memerlukan waktu 2 jam untuk pergi ke kantor dan pulang ke rumah. Bayangkan saja jika setiap harinya mereka harus melalui jalanan macet, bisa jadi kejadian ini dapat memicu stres dan kemungkinan akan berdampak terhadap kinerjanya. Maka, dengan waktu yang lebih fleksibel, millenial dapat mengatur waktu kerjanya dengan lebih maksimal.
Mencari titik persamaan di dalam perbedaan adalah bentuk kolaborasi yang tepat karena hal ini sangat krusial di era globalisasi. Di sisi lain, pemikiran yang terbuka merupakan salah satu bentuk keluaran dalam menyempurnakan ide tersebut. Melalui pemberian ruang lingkup kerja yang tidak dibatasi dan jam kerja yang fleksibel sesuai ala millenials ini diyakini mampu menunjang kinerja yang nantinya akan berdampak baik bagi perusahaan.
Hari ini 00:42 2019-03-12T00:42:03+07:00
Sehingga, menjadi hal yang lumrah jika dalam kesehariannya tidak bisa jauh dari gadget yang dimilikinya dan teknologi dijadikannya salah satu solusi untuk mempercepat menyelesaikan berbagai hal yang mereka hadapi.
Lalu, bagaimana sih sebenarnya pola pikir generasi ini? Apa yang menggugah minat mereka? Dan bagaimana seharusnya memperlakukan mereka agar tetap bertahan dalam suatu organisasi ?
Untuk bisa memperlakukan millenial dengan baik, kita harus paham betul dengankebiasaan mereka yang sangat cinta dengan media sosial. Salah satu caranya dengan membuat sebuah lingkungan kerja yang meniru aspek sosial yang bebas. Mereka menginginkan lingkungan kerja layaknya rumah mereka sendiri, dimana mereka bisa bekerja, bermain, dan beristirahat sesuka hati mereka.
Para millenial juga enggan berurusan dengan peraturan kantor, menurutnya super 'ngerepotin', contohnya sajajam kedatangan dan jam pulang. Prioritas mereka tetap menyelesaikan tugas dengan baik dan tepat waktu, namun pengerjaannya dalam suasana yang santai dan lebih tenang. Memang sih terdengar radikal, tapi sistem pekerjaan seperti inilah yang mampu membuat millenial tetap bertahan.
Kantor berkonsep open office serta lingkungan kerja kolaboratif bisa menjadi solusinya. Akses internet yang cepat, lingkungan atau lokasi kantor yang strategis, serta fasilitas lainnya yang dapat meningkatkan kinerja serta mengurangi tingkat stres dunia pekerjaan juga menjadi pertimbangan untuk mempertahankan generasi millennial.
Apple, Google, dan Facebook bisa dibilang ahlinya perusahaan yang menyediakan lingkungan kerja dengan memfasilitasi dan memanfaatkanenergi dan semangat para millenial.
Sejatinya millenial memerlukan dan selalu menjunjung tinggi rasa kebebasan. Kebebasan yang dimaksud bukanlah kebebasan yang tidak beraturan melainkan kebebasan untuk berekspresi. Disaat mereka mendapatkan rasa kebebasan tersebut, timbulah daya cipta dan imajinasi yang dapat menghasilkan ide-ide kreatif. Ide kreatif ini akan menjadi "senjata ampuh" millenial untuk bersaing di dunia pekerjaan.
Selain itu, mendengar, menyimak, sekaligus bertukar pikiran dengan orang lain, membuat millenial mendapat pandangan berbeda dan menjadikannya sumber lain munculnya ide-ide kreatiftanpa harus mengorbankan integritas dan pendirian miliknya.
Suasana baru ditambah dengan mobilitas anak muda yang tinggi diyakini mampu membuat waktu yang ada menjadi lebih efisien. Tidak dapat dipungkiri, kebanyakan millenial memerlukan waktu 2 jam untuk pergi ke kantor dan pulang ke rumah. Bayangkan saja jika setiap harinya mereka harus melalui jalanan macet, bisa jadi kejadian ini dapat memicu stres dan kemungkinan akan berdampak terhadap kinerjanya. Maka, dengan waktu yang lebih fleksibel, millenial dapat mengatur waktu kerjanya dengan lebih maksimal.
Mencari titik persamaan di dalam perbedaan adalah bentuk kolaborasi yang tepat karena hal ini sangat krusial di era globalisasi. Di sisi lain, pemikiran yang terbuka merupakan salah satu bentuk keluaran dalam menyempurnakan ide tersebut. Melalui pemberian ruang lingkup kerja yang tidak dibatasi dan jam kerja yang fleksibel sesuai ala millenials ini diyakini mampu menunjang kinerja yang nantinya akan berdampak baik bagi perusahaan.
Tidak asing lagi di telinga kita mendengar kata "millenal". Millenial atau generasi Y adalah sebutan untuk mereka yang lahir pada rentang tahun 1980-an hingga 1997. Generasi ini tumbuh pada era internet booming dengan karakteristik berbeda antar individu, pola komunikasinya lebih terbuka dibandingkan dengan generasi sebelumnya, serta fanatik media sosial yang dalam kehidupannya terpengaruh oleh cepatnya perkembangan teknologi (Lynos, 2004).
Sehingga, menjadi hal yang lumrah jika dalam kesehariannya tidak bisa jauh dari gadget yang dimilikinya dan teknologi dijadikannya salah satu solusi untuk mempercepat menyelesaikan berbagai hal yang mereka hadapi.
Lalu, bagaimana sih sebenarnya pola pikir generasi ini? Apa yang menggugah minat mereka? Dan bagaimana seharusnya memperlakukan mereka agar tetap bertahan dalam suatu organisasi ?
Untuk bisa memperlakukan millenial dengan baik, kita harus paham betul dengankebiasaan mereka yang sangat cinta dengan media sosial. Salah satu caranya dengan membuat sebuah lingkungan kerja yang meniru aspek sosial yang bebas. Mereka menginginkan lingkungan kerja layaknya rumah mereka sendiri, dimana mereka bisa bekerja, bermain, dan beristirahat sesuka hati mereka.
Para millenial juga enggan berurusan dengan peraturan kantor, menurutnya super 'ngerepotin', contohnya sajajam kedatangan dan jam pulang. Prioritas mereka tetap menyelesaikan tugas dengan baik dan tepat waktu, namun pengerjaannya dalam suasana yang santai dan lebih tenang. Memang sih terdengar radikal, tapi sistem pekerjaan seperti inilah yang mampu membuat millenial tetap bertahan.
Kantor berkonsep open office serta lingkungan kerja kolaboratif bisa menjadi solusinya. Akses internet yang cepat, lingkungan atau lokasi kantor yang strategis, serta fasilitas lainnya yang dapat meningkatkan kinerja serta mengurangi tingkat stres dunia pekerjaan juga menjadi pertimbangan untuk mempertahankan generasi millennial.
Apple, Google, dan Facebook bisa dibilang ahlinya perusahaan yang menyediakan lingkungan kerja dengan memfasilitasi dan memanfaatkanenergi dan semangat para millenial.
Sejatinya millenial memerlukan dan selalu menjunjung tinggi rasa kebebasan. Kebebasan yang dimaksud bukanlah kebebasan yang tidak beraturan melainkan kebebasan untuk berekspresi. Disaat mereka mendapatkan rasa kebebasan tersebut, timbulah daya cipta dan imajinasi yang dapat menghasilkan ide-ide kreatif. Ide kreatif ini akan menjadi "senjata ampuh" millenial untuk bersaing di dunia pekerjaan.
Selain itu, mendengar, menyimak, sekaligus bertukar pikiran dengan orang lain, membuat millenial mendapat pandangan berbeda dan menjadikannya sumber lain munculnya ide-ide kreatiftanpa harus mengorbankan integritas dan pendirian miliknya.
Suasana baru ditambah dengan mobilitas anak muda yang tinggi diyakini mampu membuat waktu yang ada menjadi lebih efisien. Tidak dapat dipungkiri, kebanyakan millenial memerlukan waktu 2 jam untuk pergi ke kantor dan pulang ke rumah. Bayangkan saja jika setiap harinya mereka harus melalui jalanan macet, bisa jadi kejadian ini dapat memicu stres dan kemungkinan akan berdampak terhadap kinerjanya. Maka, dengan waktu yang lebih fleksibel, millenial dapat mengatur waktu kerjanya dengan lebih maksimal.
Mencari titik persamaan di dalam perbedaan adalah bentuk kolaborasi yang tepat karena hal ini sangat krusial di era globalisasi. Di sisi lain, pemikiran yang terbuka merupakan salah satu bentuk keluaran dalam menyempurnakan ide tersebut. Melalui pemberian ruang lingkup kerja yang tidak dibatasi dan jam kerja yang fleksibel sesuai ala millenials ini diyakini mampu menunjang kinerja yang nantinya akan berdampak baik bagi perusahaan.
Hari ini 00:42 2019-03-12T00:42:03+07:00
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
ane mo tidur dulu bre Hari ini 00:47